Oleh : Anwar Saragih

Jika saya harus menyimpulkan isi 90 menit pidato politik Prabowo tadi malam (14/1) dalam satu kalimat. Maka kesimpulan yang bisa saya ambil adalah “Kita (negara ini) Sedang Mengalami Krisis”.

Pidato visi misi Prabowo mengambil thema “Indonesia Menang”. Menang adalah kata kerja, jika kita merujuk ke dalam KBBI kira-kira berarti “dapat mengalahkan”— apakah itu mengalahkan musuh, mengalahkan lawan atau mengalahkan saingan.

Jika kita memperhatian seluruh isi pidato politik Prabowo. Pada analisis saya sebenarnya Ia ingin menyebutkan thema pidato politiknya “Indonesia tidak boleh kalah” sebagai thema besar yang hendak diambil. Tapi karena kata “kalah” konotasinya negatif. Maka Ia memilih kata “menang”.

Saya menduga ada peran SBY dalam naskah pidato yang dibacakan Prabowo. Mengingat pada setiap pidato politik SBY baik sedang saat running kampanye atau menjadi presiden 10 tahun, SBY kerap menghindari diksi-diksi yang berkonotasi negatif dalam mengklarifikasi sebuah persoalan.

Artinya pada seluruh pidato politik Prabowo tidak seutuhnya menampilkan sosok Prabowo yang otentik dari dirinya sendiri. Pun selama ini sosok Prabowo dikampanyekan BPN 02 adalah sosok orator ulung yang mampu berpidato tanpa teks. Nyatanya kemarin Prabowo menggunakan alat bantu pidato teleprompter dalam menyampaikan visi-misinya.

—–

“Kuatan seseorang bisa muncul dari kelemahannya. Cinta dan ketakutan bisa dirasakan secara bersamaan, asumsinya jika kita harus memilih tentu akan lebih aman ditakuti daripada dicintai.” —-Kutipan diatas saya ambil dari film “Our Brand is Crisis”. Sebuah film drama komedi politik yang dirilis tahun 2015 yang lalu.

Film ini mirip seperti fenomena politik Indonesia di Pilpres tahun ini. Film ini menceritakan sosok Jane Bodine yang merupakan konsultan politik yang membantu Castillo dalam memenangi Pilpres Bolivia tahun 2002. Lawan terberat Castillo adalah kandidat bernama Rivera yang dibantu oleh konsultan politik bernama Pat Candy.

Castillo terbranding sebagai personal yang pemarah, arogan, suka berbohong dan suka-suka. Sementara lawannya Rivera ditampilkan sosok yang substansi, bepengalaman, sederhana dan santun. Pada 3 (tiga) bulan sebelum pemungutan suara, elektabilitas Castillo tertinggal 30 persen dari Rivera.

Kemenangan terasa sulit untuk diraih jika hanya menggunakan stategi biasa. Artinya saat itu Castillo adalah Kartu Mati jika tidak keluar dari narasi politik yang ia bangun selama ini. Konsultan politik Jane Bodine meminta Castillo mengubah penampilan, substansi pidato dan gaya kampanyenya untuk mempromosikan narasi “Bolivia Sedang Mengalami Krisis”.

Castillo sepakat atas usulan konsultannya tersebut. Castillo kemudian tampil di televisi dengan mengkampanyekan situasi-situasi mengerikan dan kehancuran akan dialami Bolivia, jika Rivera yang akhirnya terpilih. Pada akhir cerita film, strategi “Our Brand is Crisis” ini kemudian memenangkan hati pemilih Bolivia dan mendudukkan Castillo sebagai presiden.

Lebih lanjut, strategi ini kemudian dipakai oleh Donald Trump menang di Pilpres AS tahun 2016 dan Jair Bolsonaro menang di Pilpres Brazil 2018.

——-

Saya mendengar utuh seluruh isi pidato Prabowo melalui youtube. Setidaknya ada 5 (lima) poin isi pidato Prabowo yang merujuk pada situasi kritis, seolah-olah saat ini Indonesia berada dalam situasi terburuk sepanjang sejarah. Berpidato, berapi-api layaknya tokoh yang sedang orasi di era pasca kemerdekaan. Prabowo menyebutkan :

1. Negara yang tidak mampu bayar rumah sakit apa bisa bertahan 1.000 tahun

2. Negara membayar hutang untuk menambah hutang.

3. Gaji Tukang Parkir lebih tinggi dari dokter

4. Warga yang Bunuh diri karena kesulitan ekonomi.

5. BUMN Bangkrut

Analisis saya, pidato ini adalah bagian dari strategi politik yang mirip seperti yang digunakan Castillo. Hal ini didasari survei dalam 5 bulan terakhir yang menyebutkan angka elektabilitas Prabowo-Sandi konstan diangka 32-35% sementara Jokowi-Ma’ruf diangka elektabilitas 51-53% dengan masa mengambang 12-16%.

Selanjutnya beberapa kali Prabowo dalam pidato politiknya menyebut bahwa dirinya sebagai seorang pejuang dan dirinya disekelilingi oleh para pejuang pula. Kata pejuang dalam diksi bahasa bisa diartikan sebagai orang yang merebut kemerdekaan atau orang yang mempertahankan kemerdekaan.

—–

Pada akhir analisis saya kembali mengutip pertanyaan Jane Bodine terkait pilihan yang akan diambil rakyat Bolivia antara Castillo atau Rivera dalam sebuah diskusi dengan tim kampanyenya :

“Bila para pemilih mencari harapan, mereka selalu mencari orang baru tapi bila mereka dalam ketakutan mereka akan mencari pemimpin yang siap berperang. Anda mungkin Sepakat Rivera seorang yang substansi, berpengalaman dan santun tapi jika ia terpilih hanya akan menunggu kehancuran atau anda akan memilih Castillo yang mungkin sifatnya tidak anda sukai, arogan dan suka berbohong tapi dia seorang Pejuang?”

Pertanyaannya, apakah ada sepakat Indonesia sedang mengalami krisis? apakah anda sepakat Prabowo adalah pejuang? Apakah anda sepakat Prabowo adalah harapan?

Our Brand is not Crisis, but Our Brand is Optimism….