Ratna Sarumpaet (Sumber: Jitunews)

oleh : Anwar Saragih

Medusa, tokoh perempuan dalam Mitologi Yunani (http://encyclopediamythos.wikia.com/wiki/Medusa)

Drama pemukulan atas Ratna Sarumpaet akhirnya berhenti tayang. Setelah sang pemeran utama mengakui semua ceritanya hanyalah fiktif. Dipromosikan bahwa drama tersebut diadopsi dari kisah nyata.

Namun, berakhir dengan pengakuan  semua adegan drama yang sedang tayang hanyalah karangan belaka yang dibisikkan oleh setan. Penonton kecewa.

Banyak orang sudah membeli tiket terusan sampai drama ini benar-benar selesai, yang sebenarnya tidak tahu sampai kapan.

Apakah berminggu-minggu, berbulan-bulan atau minimal sampai 17 April 2019, hari pencoblosan Pemilu 2019. Nyatanya drama ini hanya tayang kurang lebih 2 minggu.

Jauh dari ekspektasi dan sensasi yang ditawarkan pada penonton yang begitu riuh. Berhenti pada saat Ratna, sutradara sekaligus menjadi aktris pemeran utama mengakui semua kebohongan yang ia buat. Saat itu juga penonton menghakimi ceritanya.

Jika saya harus menulis resensi cerita pemukulan Ratna Sarumpaet layaknya pada film-film drama. Maka paragraf pembuka riview saya atas drama tersebut ada pada potongan paragraf-paragraf diatas.

Ratna Sarumpaet (http://wartakota.tribunnews.com)

Sayangnya cerita karangan Ratna tidak diperuntukkan untuk sebuah film drama atau novel fiksi. Ratna justru memproduksinya untuk politik yang sangat serius dan melibatkan banyak tokoh-tokoh penting lintas profesi di negeri ini.

Lebih jauh, Ratna menyisipkannya pada saat kampanye pilpres 2019 sedang berlangsung yang otomatis melibatkan ratusan juta masyarakat Indonesia sebagai rujukan memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) tahun depan.

Ratna adalah Juru Kampanye pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo-Sandiaga Uno. Ratna kemudian mengadu pada capres Prabowo bahwa dirinya dipukuli 3 orang laki-laki diruang gelap yang mengakibatkan wajahnya rusak (bonyok).

Prabowo lalu mengumpulkan tim pemenangannya seperti Amien Rais, Fuad Bawazier, Djoko Santoso, Danhil Simanjuntak dan lain-lain untuk sebuah konfrensi pers tentang penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet.

Opini kemudian berkembang mengaitkan penganiayaan Ratna Sarumpaet berkaitan dengan Pilpres 2019. Kenapa demikian ? sebab, konfrensi pers Prabowo juga melibatkan tim inti kampanye nasional Prabowo-Sandi yang otomatis menimbukan opini liar masyarakat.

Lebih lagi, tokoh-tokoh pendukung Prabowo seperti Fadlizon, Rizal Ramli, Ferdinand Hutahaean hingga Fahri Hamzah juga ikut menyebarkan informasi bohong soal Ratna.

Saya melihat substansi kasus Ratna telah bergeser dari substansi hoaks yang dilakukannya. Pergeseran itu terlihat dari narasi-narasi yang muncul di kapitalisasi oleh sisi maskulinitas politik. Sisi maskulinitas yang saya maksud adalah dunia politik yang identik dengan laki-laki.

Sebab, ini yang pada akhirnya dikapitalisasi oleh tim kampanye Prabowo-Sandi. Bahwa ada seorang perempuan berumur 70 tahun dipukuli oleh 3 orang laki-laki. Setelah Ratna melakukan pengakuan bahwa ceritanya adalah fiktif, warganet kemudian menghakimi si perempuan (Ratna) dengan narasi kecantikan karena operasi plastik.

Pun kita menyaksikan bagaimana politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean kemudian mempertanyakan operasi plastik Ratna dengan pertanyaan; “Karena yang saya pahami orang operasi plastik untuk mempercantik diri. Tapi kok Ratna Tidak jadi cantik ? tetap saja seperti semula, inilah yang harus diusut?

Pada sisi yang berbeda, putri Amien Rais, Hanum Rais kemudian menyamakan Ratna Sarumpaet dengan sosok pahlawan nasional perempuan Indonesia Cut Nyak Dien dan Kartini.

Jika kita melihat utuh narasi mengenai Ratna, sisi keperempuannya sangat dieksploitasi tim kampanye Prabowo-Sandi. Penghakiman atas tubuh Ratna kemudian menjadi narasi tersendiri dalam keperempuanannya untuk diangkat dan diceritakan sebagai pihak yang sangat lemah dan butuh keadilan.

Drama itu, secara jelas mengabaikan apakah Ratna berkata benar atau berkata bohong pada bagian yang berbeda, sebab tidak ada screaning serius secara medis oleh Tim Prabowo-sandi dalam mengungkap pengakuan Ratna.

Justru anak dari Timses Prabowo Amien Rais, Hanum Rais sampai mengungkapkan bahwa dirinya yang merupakan dokter yang telah meraba dan memeriksa luka Ratna. Hitungannya hanya sebatas isu politik dan dirkursus politik disaat kampanye Pilpres 2019.

Jika kita merujuk kisah Medusa pada mitologi Yunani. Kita akan membaca narasi tentang Medusa yang seorang gadis cantik penjaga kuil Athena yang diperkosa oleh Poseidon. Medusa lalu melaporkan kejadian yang menimpanya.

Malangnya pada meski Medusa benar-benar diperkosa oleh Poseidon justru Medusalah yang dihukum Athena. Medusa lalu dikutuk untuk tidak cantik dengan rambut ular dan siapapun yang menatap langsung mata Medusa akan menjadi batu.

Kutukan ini kemudian dianggap berbahaya oleh banyak laki-laki yang memaksa Medusa harus dibunuh. Diakhir cerita Medusa kemudian dibunuh oleh Perseus.

Pelajaran yang bisa diambil adalah ini bukan soal hoax atau fakta yang disampaikan oleh Ratna, ini tentang maskulinitas politik dan kasus Ratna sedang berada pada jalur politik yang sangat patrilinear.

Jika Ratna kemudian mengungkapkan bahwa hoax tersebut berasal dari khayalan setan. Saya juga akan mengungkapkan bahwa hantu-hantu seperti Kuntilanak adalah hantu-hantu perempuan yang meninggal karena hamil dan buruknya sistem persalinan di rumah sakit. Ini tentu berkaitan dengan maskulinitas kebijakan publik di negeri ini.

Lebih jauh, Suntil Bolong, hantu perempuan yang meninggal karena pemerkosaan dan kekerasan laki-laki terhadap perempuan juga adalah kritik terhadap maskulinitas yang melahirkan relasi kuasa.

Selamat malam jum’at, Ratna…

 

Penulis adalah Peminum Kopi dan Direktur Riset S75 Branding House.