Oleh : Anwar Saragih

Jokowi dan nama besar Universitas Indonesia (UI) memiliki hubungan yang paradoks. Kurang dari 11 sebelas bulan yang lalu, Jokowi mendapatkan kartu kuning dari ketua BEM UI, Zaadit Taqwa sebagai respon dan kritiknya pada pemerintahan Jokowi. Sementara kemarin, Alumni UI secara terang-terangan mendukung Jokowi melanjutkan pemerintahannya untuk periode 2014-2019 di pelataran GBK, Jakarta.
 
Ini sesuatu yang sangat menarik untuk dilihat mengingat Jokowi adalah alumni Universitas Gadjah Mada (UGM). Pun selama ini, UI dan UGM kerap bersaing untuk menjadi universitas terbaik di Indonesia. Indikator akreditas, jumlah publikasi jurnal Internasional, hingga persaingan Alumni UI (Iluni) dan Alumni UGM (Kagama) kerap menghiasi guyonan dan perdebatan diantara teman-teman saya.
 
—–
 
Saya bukan alumni UI atau UGM, tapi saya merasakan sendiri persaingan kedua mahasiswa/alumni Universitas ini bila sedang bertemu. Ada satu candaan yang kerap saya dengar baik dari teman yang menempuh pendidikan di UI atau UGM.
 
Kata teman saya anggota ILUNI yang kerap melontarkan candaan “Di Indonesia hanya ada dua Universitas yaitu UI dan univesitas-universitas lainnya”. Sementara, teman saya yang lainnya yang merupakan anggota KAGAMA bilang pernyataan agak serius “UGM Memimpin Peradaban Bangsa”.
 
Situasi ini kerap membuat saya tertawa. Menikmati setiap candaan dari teman-teman saya tersebut.
 
——-
Menarik untuk dilihat adalah ketika Alumni UI mendukung Alumni UGM untuk kontestasi politik sekelas Pilpres. Ini membuktikan bahwa ada konsensus yang hendak dijawab dalam menghadapi tantangan bangsa 5 tahun kedepan.
 
Deklarasi kemarin pun membantah asumsi bahwa Alumni UI condong ke pasangan Parabowo-Sandi. Sebabnya, nama-nama seperti : Fadlizon, Fahri Hamzah, Rocky Gerung dan Faldo (Mantan ketua BEM UI) merupakan pendukung dari pasangan 02 Prabowo-Sandi yang sering membagikan pengalaman mereka saat kuliah di UI. Bahkan belakangan dosen senior Ilmu Politik UI, Chusnul Mar’iyah kerap muncul di acara-acara yang diselenggarakan BPN 02.
 
Kenapa UI?
 
Saat ini, secara nyata, setidaknya ada 6 menteri Jokowi dari Alumni UI yaitu Nila Moelok, Puan Maharani, Sri Muliayani, Sofyan Djalil, Bambang Brodjonegoro dan Darmin Nasution. Jika diperhatian utuh diantara keenam nama tersebut hanya Puan yang merupakan representasi Parpol. Artinya irisan Jokowi dengan Alumi UI sangat kuat.
 
Lebih lagi, dalam sejarah perubahan politik di Indonesia melalui gerakan mahasiswa pasca kemerdekaan nama UI selalu mendapat tempat tersendiri dan menjadi pioner pergerakan mahasiswa. Bahkan bisa dikatakan UI merupakan kampus yang selalu ditunggu gerakannya setiap momentum perubahan politik Indonesia.
 
Entah apa sebabnya, mungkin karena lokasi kampus UI berada di Ibukota (dekat dengan ibukota/Depok) dan dekat dengan kantor-kantor simbol kekuasaan. Pun dalam nama Univerisitas Indonesia terdapat kata “Indonesia”.
 
——-
 
Gerakan mahasiswa 1966 misalnya, kita selalu dijelaskan tentang nama-nama aktivis UI seperti Soe Hok Gie, Cosmas Batubara dan Akbar Tanjung. Sementara gerakan Malari, 15 Januari 1974, kita selalu mendapatkan narasi biografi seorang aktivis UI Hariman Siregar. Pun kisah Reformasi 1998, narasi perjalan aktivis-aktivis UI juga memiliki peran tersendiri dalam tinta sejarah perjalanan bangsa.
 
2019, Alumni UI telah mendeklararasikan diri ke Jokowi. Kali ini bukan untuk melawan sebuah rezim. Tapi melawan narasi pesimisme Indonesia bubar dan punah. Deklarasi ini dilakukan di Jakarta, saat BPN Prabowo-Sandi menggempur Solo, Jawa Tengah.
 
Satu hal yang mungkin terlupakan, Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah adalah Ketua Ikatan Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), teman se-almamater Jokowi.