Oleh : Abi Rekso Panggalih (Sekjen Pergerakan Indonesia)

“Dasar fasisme adalah berontak menentang keadaan yang ada. Dan dipandang dalam kacamata lain adalah tanda yang menyatakan satu” – minder waardigheids –complex”

(Hatta : Fasisme dan Paradox, 1934)

Rasanya, sangat pantas jika bicara pemimpin sederhana kita mulai dari Bung Hatta. Tentu, setelah membahas suri tauladan Rasullulah SAW.

Yang saya kenal, mungkin juga sebagian dari kalian mengerti, soal arti kesederhanaan bukan semata-mata rumusan teori. Hampir jarang, kita menemukan rumusan teoritis atau bangunan metodologis untuk menjelaskan apa itu kesederhanaan.

Kesederhanaan muncul dan dipahami via ketauladanan. Bukan saja dalam ilmu manajemen yang Barat, Islam sebagai ajaran agama pun lebih dulu sarat berbicara tentang kesederhanaan. Dan sepertinya, kita sepakat jika mendaulat kesederhanaan sebagai satu tauladan.

Suri tauladan. Tentu, tidak semudah mengucapkannya. Sebagai seorang Muslim, Rasulullah adalah rujukan atas kesederhanaan itu. Kesederhanaan bukan sesuatu yang harus dipamerkan (riya’), kendati terus diamalkan dalam keseharian.

Dalam sebuah kisah Rasulullah, kehidupan pribadi dan rumah tangga Rasulullah banyak diisi dengan kisah kesederhanaan. Sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim menggambarkan secara jelas sifat zuhud serta kesederhanaan Nabi. Pada suatu hari, sahabat Umar bin Khatthab menemui Rasulullah di kamarnya.

Umar pernah melihat Rasul sedang berbaring di atas sebuah tikar kasar, dan hanya berselimutkan kain sarung. Kemudian, terlihatlah guratan tikar yang membekas di tubuh Rasulullah SAW. Umar pun melayangkan pandang ke sekeliling kamar.

Melihat begitu sederhananya kamar Rasullulah, Umar bin Khttab pun menangis dan terhenyuh.

Seraya, Rasullulah bersabda : “Wahai putra Khattab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?”

اللَّهُمَّ اجْعَلْ رِزْقَ آلِ مُحَمَّدٍ قُوتًا

“Ya Allah, jadikan rezeki keluarga Muhammad berupa makanan yang secukupnya” (HR. Muslim, no. 1055).

Begitulah potret kehidupan Rasullulah sebagai tauladan kesederhanaan. Bagi seorang Muslim, kesederhanaan ditegakkan dalam keseharian dan kehidupan keluarga.

Jika, begitu berat bagi kita melakukan amaliah kesederhanaan dengan derajat Rasullulah, tentu Allah memberikan contoh-contoh lain yang mungkin bisa kita tauladani.

Bung Hatta, adalah sosok pemimpin yang diturunkan Allah SWT untuk bangsa Indonesia. Jika, sebagian dari kita ditanya, apa yang kau ingat dari Bung Hatta. Bisa dipastikan, sebagian dari yang mengerti menjawab ; “Kesederhanaan”.

Mavis Rose atau Deliar Noer, tentu bisa lebih fasih menuturkan kesederhanaan Bung Hatta. Tapi tentu, tidak semua orang yang membaca pesan ini pernah berkenalan kepada dua tokoh itu. Saya hanya menyambungkan dari apa yang pernah mereka tulis.

Hatta muda, lahir dari keluarga terpandang. Kakek dari mamaknya, adalah orang terpandang. Hatta tumbuh berkembang dalam kondisi serba cukup.

Ketika dirinya pergi melanjutkan sekolah ke Belanda, dengan usia yang relativ muda. Prinsip kesederhanaan tetap dia peluk erat. Hatta, sempat bekerja sebagai tukang jahit dadakan. Dia memperbaiki pakaian teman-temannya dan mendapatkan upah pengganti untuk bertahan hidup. Hatta muda, jauh dari potret borjuis yang hedonis.

Mavis Rose, juga banyak mencatat bahwa sering kali Hatta enggan untuk diajak pesta ala mahasiswa. Tentu, belakangan setelah Sjahrir tiba. Sjahrir, lebih mudah bergaul ketimbang Hatta. Hatta lebih memilih menyelesaikan jurnal-jurnal ekonomi-politiknya.

Cerita yang lain, begitu sering dan hafal ditelinga Rakyat Indonesia. Bagaimana, bung Hatta tidak bisa membayar tagihan rekening listrik, pasca mundur sebagai wapres. Hingga cerita yang begitu menginspirasi, hingga akhir hayat Bung Hatta menyimpan keinginannya sepasang sepatu Bally.

Bukankah, Iwan Fals secara sukarela membuat syair untuk mengenang Bung Hatta dan kesederhanaannya ;

…Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu..

Dari mana, kemudian kita mengerti dan tahu begitu dalamnya sifat sederhana seorang Bung Hatta. Tentu, dari keluarga intinya yang selama itu, secara langsung melihat dan mengamalkan kesederhanaan Bung Hatta.

Dan tentu, tulisan ini saya tujukan secara langsung kepada *Rocky Gerung*. Yang dengan lantang-gemilang mengejek prilaku sederhana.

Begini, secara gagah-tengadah Rocky mengucap mantra : “Kesederhanaan itu baik, saya bangga. Tapi lebih cocok menjadi kepala keluarga. Ketimbang kepala negara”. Dengan lagak yang sok tajir, dia dengungkan mantra itu didepan Prabowo. Sepertinya, keduanya saling tersanjung dalam ruang hampa.

Dan pemuja mereka bersorak sorai, dengan diksi Rocky yang merendahkan sifat kesederhanaan. Ya, Rocky dan Prabowo adalah dua makhluk yang tidak memahami nilai-nilai Islami. Bahkan, sifat-sifat kesederhanaan yang menjadi tauladan kita daripada Rasullulah, Rocky lecehkan dengan ekspresi arogan.

Tentu, bagi Rocky dan Prabowo kesederhanaan adalah hambatan. Karena, jika semakin banyak orang yang menjadi sederhana, maka kemewahan adalag keanehan. Mereka risih berpura-pura sederhana, karena sedang mengambil simpati Umat. Tidak ada kesederhanaan dalam bathin mereka. Yang mereka punya adalah timbunan kesombongan dan gemerlap kemewahan.

Tapi yang lucu, jika kalimat itu keluar dari seorang Rocky yang juga bukan anak orang terpandang. Tidak ada sesuatu yang selayaknya disombongkan dari dirinya. Begitu aneh, ketika dengan sombong dan bangga melecehkan sikap kesederhanaan seorang pemimpin.

Bagi Rocky, kesederhanaan hanya cocok untuk kepala rumah tangga. Kalau, kita tanya balik. Ngurus keluarga saja ga mampu, masa mau ngurus negara ?