oleh : Anwar Saragih

Partai manapun, diluar PDI Perjuangan dan Gerindra rasanya perlu waspada bila membaca utuh hasil survei yang di rilis Populi Center Oktober 2018 yang lalu. Karena faktanya tak satupun partai diluar kedua partai tersebut yang merasakan langsung coattail effect (efek ekor jas) dari Jokowi-Ma’ruf atau Prabowo-Sandi.
 
Elektabilitas PDI Perjuangan diprediksi naik dari 18,95% suara di Pemilu 2014 menjadi 29,9%. Gerindra naik dari 11,18% suara di Pemilu 2014 menjadi 18,4% di Pemilu 2019 nanti.
 
Sementara tren suara partai-partai lainnya relatif menurun. Bahkan, jika hasil survei Populi Center dijadikan rujukan, hanya akan ada 5 partai di parlemen di 2019 nanti dengan manarik ambang batas 4% yaitu PDI Perjuangan, Gerindra, Golkar (9,5%), PKB (7,2%) dan Demokrat (6,3%)
 
Pada pengertian yang sederhana efek ekor jas dapat dimaknai sebagai pengaruh figur kandidat dalam peningkatan suara partai, dalam hal ini kedua pasangan capres yang sedang running.
_________
 
Mesin sudah 3 bulan dipanaskan. Artinya masih ada 5 bulan kedepan mesin terus dihidupkan di masa kampanye pemilu yang berakhir 13 April 2019. Meski harus diakui prosesnya menghabiskan tak sedikit bensin. Memikirkan arah tentu lebih baik daripada partai benar-benar mati.
 
Lebih lagi, sistem pemilu serentak antara Pileg dan Pilpres model seperti ini belum pernah kita laksanakan sebelumnya. UU Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu layak diibaratkan sebagai “cara partai politik untuk membuat ranjau bagi mereka sendiri”.
 
Jangankan partai baru seperti PSI, partai-partai lamapun masih gamang dengan model pemilu seperti ini. Itu pula yang menjadi alasan utama secara gamblang Partai Demokrat, melalui ketumnya SBY, yang lihai membaca situasi ini hingga memberi dispensasi untuk tidak melarang kader-kadernya mendukung Jokowi di basis-basis tertentu. Seperti: Papua, Sulut, NTB dan Jatim.
 
——-
 
PSI tentu mengambil posisi yang jauh berbeda dengan keputusan politik yang diambil Partai Demokrat. Meskipun sama-sama tidak mau terjebak dalam jebakan efek ekor jas, PSI tidak mau menjauh dari barisan pendukung Jokowi. Pilihan langkah kemudian dijatuhkan PSI dengan menguatkan Trigger partai yang dikampanyekan selama ini, dengan format : Partai yang Anti-Korupsi dan Anti-Intoleransi.
 
Materi debat Korupsi Orba, misalnya merupakan cara PSI menarik garis batas identitas mereka dengan partai-partai lainnya. Pun sikap-sikap PSI mendukung toleransi yang diwujudkan dengan pidato politik Grace Natalie di Ulang tahun PSI yang ke-4 pada bulan november lalu, soal Perda Injil dan Perda Syariah.
 
Efektifkah? Pada analisis kuantitatif yang berbeda pencarian tentang Grace dan PSI jika kita ukur bersama meningkat berkali-kali lipat. Setidaknya masyarakat pernah mendengar nama PSI dan tahu sikap politik mereka.
 
Lalu, dampaknya muncul komentar bernada sinis dan risih dari partai koalisi tentang PSI. Itu urusannya lain, selama PSI tidak beranjak dari pendukung utama Jokowi semuanya masih aman.
 
Asumsinya jika anda menempatkan cinta dan benci dalam perasaan yang sama. Tentu PSI akan memilih dibenci partai-partai lain tapi dicintai oleh pemilih karena sikap-sikap politiknya.