Kopi adalah tanaman komoditas yang memiliki nilai jual yang sangat baik untuk para petani apabila dikelola dengan baik. Budidaya yang tepat akan memberikan hasil yang melimpah.

Karo sebagai salah satu sentra pertanian utama di Sumatera Utara, sudah mulai memberikan konstribusi yang baik dalam dunia perkopian. Terlihat dari banyaknya petani petani jeruk yang beralih ke tanaman kopi.

Keberhasilan ini akan terlihat dengan meningkatnya kesejahteraan petani. Namun indikasi ini yang kelihatan masih rancu. Hanya sebatas euforianya saja yang terasa.

Bahkan di lapangan, mayoritas petani tidak paham apa kopi itu sebenarnya. Hanya sekedar menanam.

Kelompok-kelompok tani sangat diperlukan dan hal ini harus serius dilakoni, dibimbing dan diarahkan ke arah yang positif.

Kalau tidak kelompok-kelompok ini akan mendapat bantuan yang ujungnya mangkrak. Bantuan juga harus tepat sasaran.

Teknologi dan informasi budidaya kopi dari konvensional ke arah pertanian kopi yang teritegrasi itu lah yang tepat, bukan sekadar memberi mesin sangrai, yang petani juga gak paham. Ini terlalu kompleks.

Pe Ajijahe Coffee, Tanah Karo, banyak bergerak dan memperhatikan aktivitas perkopian di sekitar, bahkan mengarah ke kabupaten-kabupaten lain, juga propinsi lain.

Pe 88 Ajijahe memiliki konsentrasi bukan hanya sekedar menawarkan biji biji kopi berkwalitas tetapi lebih fokus terhadap lingkungan hidup.

Sadar kopi adalah tanaman keras, ada keuntungan lain yang dapat diperoleh, yaitu udara yang baik dan lingkungan yang asri. Satwa-satwa yang dulu hampir punah karena penggunaan pestisida yang masif kini sudah mulai terlihat ke arah yang baik.

Fakta lapangan tentang perkopian tidak bisa dipelajari dari wacana wacana yang ada di gerai-gerai kopi di kota, tapi Pe 88 Ajijahe siap mendampingi di lapangan.(*)