MEDAN – Berbagai tudingan negatif terhadap rencana pelaksanaan Festival Babi membuat penggagasnya, Togu Simorangkir merasa banyak hal yang telah dipelintir. Dalam wawancara khusus kepada Wayar, Selasa (3/9/2019), ia menjelaskan bahwa tak ada sedikit pun sentimen agama pada penyelenggaraan Festival Babi.

“Saya orang Batak, kami tidak mengenal sentimen terhadap agama lain. Festival Babi ini selain untuk menjawab tantangan, ya untuk membangun ekonomi kerakyatan bagi masyarakat di sekitar sini,” jelasnya.

Ide membuat Festival Babi ini memang diakui karena adanya pernyataan Gubernur Sumatera Utara tentang wisata halal Danau Toba. Hal ini menyentil penerima penghargaan Kick Andy Heroes 2019 ini.

Menurutnya, labelisasi wisata halal akan menurunkan kelas wisata Danau Toba. Selama ini masyarakat di sekitar Danau Toba hidup dengan toleransi yang tinggi. Hampir tak pernah ada persoalan atau benturan antar-umat beragama.

“Masyarakat di sekitar Danau Toba itu keren, toleransinya tinggi. Tidak perlu ada labelisasi halal, kita juga tahu mana yang boleh dan tidak,” ungkapnya.

Menjawab tantangan wisata halal, bukan berarti tanpa dasar. Festival Babi ini sendiri sudah dipikirkan secara matang untuk membantu peningkatan ekonomi kerakyatan masyarakat di sekitar Danau Toba. Terbantunya ekonomi masyarakat lokal dalam festival ini, seperti semua bahan lomba, khususnya babi diambil langsung dari peternak yang berada di sekitar Danau Toba.

Bahkan, anak-anak muda di Muara akan membuat sendiri piala sebagai hadiahnya. Tingginya antusiasme masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah dengan festival ini tentunya mendatangkan keuntungan bagi masyarakat setempat.

Mulai dari tingkat hunian, rumah makan hingga perputaran uang yang dinilai akan lebih menguntungkan masyarakat setempat. Bahkan, ada yang menawarkan babi dari luar daerah namun ditolak.

Karena  komitmen meningkatkan perekonomian masyarakat lokal maka walaupun harga babi yang ditawarkan lebih murah seratus ribu rupiah per ekornya, namun panitia tetap memilih membeli babi dari peternak lokal.

Ia memaparkan, bahwa Festival Babi nantinya bukan hanya terkait kuliner. Beberapa perlombaan pada festival yang rencananya akan diadakan pada 25-26 Oktober 2019 mendatang adalah kuliner berbahan babi, menggambar dan mewarnai, menangkap babi, lari babi, babi tersemok, menebak berat badan babi, selfie dengan babi hingga fashion show anak.

“Acara ini for fun makanya ada beberapa lomba seperti babi tersemok. Babi itu kan memang semok,” katanya.

Selain beberapa perlombaan, akan diadakan beberapa pelatihan seperti pengolahan pakan dan manajemen kandang babi, kebersihan kandang babi, mengenalkan teknologi biogas untuk kotoran babi. Kegiatan tersebut dinilai positif, selain untuk masyarakat juga untuk wisatawan.

Bagaimana dengan wisatawan Muslim yang mau datang menyaksikan festival ini? Togu menjawab akan ada Parsubang Corner nantinya. Parsubang Corner adalah ruang makan dan ibadah khusus bagi wisatawan Muslim.

Hal ini sudah biasa dalam kebudayaan masyarakat Batak. Dalam setiap pesta Batak, Parsubang Corner selalu ada bagi yang tidak bisa mengonsumsi makanan non-halal.

Babi Tidak Negatif

Pemilihan hewan babi untuk dijadikan festival adalah hasil petualangannya berjalan kaki mengelilingi Danau Toba sejauh 305 kilometer. Diketahui bahwa masyarakat di sekitar Danau Toba adalah petani dan peternak, khususnya babi.

“Kenapa babi harus dimusuhi? Kenapa tidak bisa menjadi sebuah potensi atraksi wisata yang sebenarnya sudah banyak disitu?” terangnya.

Nama babi sendiri adalah literasi yang memang sudah sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sehingga tidak sepantasnya jadi negatif. “Masa harus kita bilang festival sapi kaki pendek atau kerbau kaki pendek. Nama hewan ini kan memang babi, jadi mau disebut apa?,” tambahnya.

Potensi lokal di wisata Danau Toba adalah babi. Ia menyayangkan pernyataan pemerintah provinsi yang menawarkan konsep wisata halal yang bertentangan dengan kearifan lokal. Perbaikan wisata Danau Toba dengan labelisasi halal dinilai bukan solusi.

“Itu perusahaan-perusahaan perusak lingkungan suruh tutup lah, biar pariwisata di Danau Toba bisa semakin berkembang. Bukan dengan menawarkan potensi Z di wilayah yang potensinya A,” tegasnya.

Hewan babi sendiri sudah sangat familiar di tengah keluarga Batak di sekitar Danau Toba. Togu mengingat kembali kenangan masa kecilnya di mana keluarganya bergantung dengan hasil dari berternak babi. Tak jarang, keluarga Batak di sekitaran Danau Toba mengandalkan biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya dari hasil berternak babi.

Bahkan, karena babi menjadi kantong penghasilan keluarga yang utama, orangtua akan lebih memperhatikan babi daripada anak-anaknya. “Dulu kalau kita pulang sekolah yang ditanya bukan kau udah makan belum nak, tapi udah kau kasih makan babi-babi peliharaan kita itu?” ceritanya sambil tertawa.

Antuasiasme Datang dari Berbagai Daerah

Di tengah hiruk pikuk pro kontra wisata halal versus festival babi ini. Menurut Togu Simorangkir, banyak pihak yang menghubunginya untuk ikut berpartisipasi. Mulai dari pemilihan lokasi acara, hingga pengisi acara. Baru empat hari pengumuman Festival Babi akan dilaksanakan, akan ada empat orang chef dari Manado dan Bali yang akan berpartisipasi memberikan coaching clinic tentang memasak babi guling hingga pengolahan daging babi yang baik. Selain itu banyak asosiasi peternak babi dari berbagai daerah yang akan datang berpartisipasi dalam festival ini.

“Sudah ada satu mobil bak terbuka yang akan berpartisipasi dalam festival babi ini,” katanya.

Selain itu, donatur untuk acara yang baru diumumkan selama empat hari juga semakin banyak. Bukan hanya dari kalangan Nasrani, namun kalangan Muslim juga banyak yang menghubungi untuk memberikan dukungan agar acara bisa terselenggara dengan baik. Dukungan ini bukan hanya datang dari masyarakat Sumatera Utara, namun luar daerah seperti Jakarta, Jawa, Bali, Manado dan berbagai daerah lainnya sudah menghubungi Togu.

“Aku ga mau acara ini dikapitalisasi. Orang yang tau Togu Simorangkir pasti paham niatnya apa dalam festival ini. Makanya teman-teman dari berbagai daerah dan agama menghubungi, kata mereka apa yang bisa gua bantu,” tuturnya.

Tingginya antusiasme masyarakat dari berbagai daerah akan membuat Festival Babi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisata Danau Toba. Bahkan rencananya, Festival Babi akan dijadikan event tahunan pada pariwisata Danau Toba. “Jadi mari kita bergembira bersama pada Festival Babi nanti,” ajaknya.(wayar.id/fika rahma)