Oleh : Anwar SaragihMoral politik kita benar-benar diuji. Perangai, akhlak dan sifat batiniah politisi yang kita harapkan menjadi suri tauladan kepemimpinan semakin lama terkikis oleh keserakahan. Pemimpin seyogyianya jadi panutan justru masuk kedalam ruang paling gelap.

Berbagai Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK terus terjadi. Pun kasus korupsi lama terus mencuat kepermukaan, memunculkan pertanyaan apa ada kesalahan dalam proses demokrasi kita ? apa yang salah dengan politisi kita?.

Kita seperti kehilangan impresi terhadap politik yang semakin lama semakin terlihat brutal. Penyebabnya utamanya, mereka (oknum) terlalu suka melakukan transaksi dalam pasar gelap mengatasnamakan kekuasaan. Menggadaikan mandat rakyat.

Gerontokrasi, politik sudah menua. Lufhfi Hasan Ishaaq (mantan presiden PKS), Anas Urbaningrum (Mantan Ketum Demokrat), Suryadharma Ali (Mantan Ketum PPP) dan Setya Novanto (Mantan Ketum Golkar) adalah para pemimpin partai yang sudah berada dipenjara. Kini, Romahurmuziy (Ketum PPP), sepertinya, meski belum, tapi sudah kena OTT tadi siang.

Politik kita seperti kehilangan ruhnya, ruh kebajikan, jika saya harus mengutip Aristoteles. Kebajikan tentu saja, membutuhkan moral. Moral menghitung konsistensi kita. Tidak menghitung benar atau salah, tapi baik buruknya politisi dari waktu ke waktu.

Entah apa sebabnya. “Bagaimana kau memandang politik, ucap seorang penyair Chili, Pablo Neruda pada seorang perempuan yang baru dikenalnya?”. Perempuan itu menjawab cukup satu kata, Cinta.

Jauh dari kisah Neruda di negaranya Chili dan tempat pelariannya Spanyol. Seorang perempuan, bernama : Grace Natalie sedang berjuang dalam kereta yang sama di gerbong sama pula, yang isinya anak-anak muda, bilang : “Udah….Udah….Udah…”.

Banyak cibiran dari kelompok politisi tua dari yang kasar sampai bahasa seksis tentang Grace. Mengaku bahwa seolah mereka yang paling paham politik. Membuat politik terlihat rumit, seolah suara-suara lantang dijalanan, gas air mata dan bekas luka dikepala karena benturan sepatu kulit menjadi indikator utama masuk ke politik. Politik tak serumit itu.

Politik bukan hapalan, apalagi pilihan berganda. Politik tidak mewajibkan kita menghapal nama-nama pejabat yang telah ditangkap KPK atau memilih politisi mana yang akan ditangkap berikutnya.

Politik adalah kesatuan utuh diantara unsur-unsur yang tak lagi bisa kau pisahkan.

Air + Gula + Es = Es Teh Manis. Terus tehnya dimana tanyamu ? Tanpa pernah menanyakan berapa anggaran yang hilang dari pembangunan rumah sakit, sekolah-sekolah dan jalan.

Tidak ada yang salah bagi yang pikirannya rumit, tapi kesetiaan jangan pernah lekang oleh waktu. Terpenting, kau menyadari, kau tidak benar sendiri. Ada kebenaran lain diluar sana. Kepada siapa rakyat akan memberikan kepercayaannya.

Mungkin kepada orang yang lebih jujur, mungkin kepada orang yang lebih setia atau mungkin kepada anak berusia 17 tahun yang baru saja punya KTP. Tak perlu kau risaukan, jika toh politik yang kau jalankan muaranya ke penjara.

Udah…..Udah….Udah…..!!!!